Posted: 06 Nov 2013 04:33
PM PST
Segala puji hanyalah milik
Allah Ta’ala, yang seluruh perkara berada di tangan-Nya. Shalawat serta
salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Wa ba’du.
Menuntut ilmu adalah sebuah
ibadah yang sangat mulia. Ilmu adalah kunci pembuka untuk amalan-amalan
lainnya. Karena dengan ilmu, seorang hamba bisa mengetahui bagaimana seharusnya
dia beribadah kepada Rabb-nya, mengetahui apa saja kewajiban yang harus ia
jalankan, serta mengetahui apa saja larangan yang harus ia jauhi. Oleh karena
itulah, keikhlasan dalam menuntut ilmu adalah suatu hal yang harus terus
dijaga oleh kita semua agar ibadah yang sangat mulia ini tidak menjadi debu
yang berhamburan di sisi Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا
لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali untuk beribadah
kepada Allah dengan mengikhlashkan agama kepada-Nya” (QS.
Al Bayyinah : 5)
Tanda Ikhlas dalam menuntut ilmu
Keikhlasan dalam menuntut
ilmu akan memberikan pengaruh kepada pribadi orang tersebut yang dapat
dirasakan oleh orang yang berada di sekitarnya. Di antara tanda-tanda ikhlas
dalam menuntut ilmu adalah sebagai berikut :
1- Membuahkan ilmu yang bermanfaat
Tanda paling jelas yang
menunjukkan bahwa seseorang memiliki niat yang benar dalam menuntut ilmu adalah
ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya.
Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
مَثَلُ
مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ
أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ
الكَلَأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ
“Permisalan petunjuk dan ilmu
yang Allah utus diriku dengan membawa keduanya sebagaimana permisalan hujan
lebat yang membasahi bumi. Diantara tanah yang diguyur air hujan, ada tanah
yang subur, yang menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tetumbuhan dan
rerumputan yang lebat” (HR. Bukhari)
Seperti itulah permisalan
ilmu yang bermanfaat bagi seorang hamba. Ilmu tersebut akan memberikan manfaat
kepada pemiliknya khususnya, dengan membuat hatinya semakin lembut, jiwanya
semakin tunduk kepada Rabb-nya, lisan dan pandangannya semakin terjaga, dan
seterusnya. Tidak hanya itu, manfaat ilmunya juga meluas kepada orang-orang di
sekitarnya dengan akhlaknya yang semakin mulia serta ilmu yang telah ia raih ia
ajarkan kepada orang-orang di sekelilingnya.
Inilah tanda yang pertama
yang menjadi poros bagi tanda-tanda lainnya, ilmu tersebut bermanfaat bagi
dirinya.
2-
Mengamalkan ilmu
Ilmu dicari untuk diamalkan.
Oleh karena itu, Allah Ta’ala akan bertanya kepada semua orang yang
telah belajar, apa yang telah mereka amalkan dari ilmu yang ia miliki?
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ
يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ … وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ
“Tidak akan bergeser dua
telapak kaki hamba di hari kiamat sampai ia ditanya,(salah satunya) tentang
ilmunya, apa yang sudah dia amalkan?” (HR.
Tirmidzi, beliau nilai hasan shahih. Dan dinliai shahih oleh Al
Albani)
Ketika seseorang memiliki
niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu, maka ia akan mengerti bahwa ilmu yang ia
cari bukanlah tujuan akhir, tetapi bekal dia untuk beramal sehingga ia akan
berusaha mengamalkan setiap ilmu yang ia miliki. Adapun orang yang niatnya
rusak, maka mengamalkan ilmu bukanlah tujuan yang hendak ia capai. Oleh
karena itu, Al Khatib Al Baghdadi rahimahullah mengatakan, “Seseorang
tidak dianggap berilmu selama ia tidak mengamalkan ilmunya” (Iqtidhaa-ul
‘Ilmi Al ‘Amal hal. 18, dinukil dari Tsamaratul ‘Ilmi Al ‘Amal, hal.
45)
3- Terus memperbaiki niat
Orang yang merasa telah
ikhlas dalam menuntut ilmu merupakan ciri tidak ikhlasnya ia dalam menuntut
ilmu. Orang yang ikhlas justru terus memperbaiki dirinya dan meluruskan niatnya
dalam setiap amalannya dan tidak merasa dirinya telah ikhlas. Sebagaimana yang
dikatakan ‘Amr, “Barangsiapa yang mengatakan dirinya adalah orang yang
berilmu, maka dia adalah orang yang bodoh”. Ibnu Rajab mengatakan, “Orang
yang jujur akan merasa takut dirinya tertimpa kemunafikan dan takut mengalami
su-ul khatimah” (lihat Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, hal. 30-31)
4- Semakin tunduk dan takut kepada Allah Ta’ala
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا
يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang yang takut
kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah orang yang berilmu” (QS. Fathir : 28)
Pada ayat di atas Allah
menyebutkan bahwa orang yang takut kepada-Nya adalah orang yang berilmu. Oleh
karena itu, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin tunduk ia kepada
Rabb-nya. Sebagian ulama mengatakan, “Siapa yang takut kepada Allah
maka dia adalah orang yang berilmu. Dan siapa yang bermaksiat kepada Allah maka
dia adalah orang yang bodoh” (dinukil dari Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal
Khalaf hal. 26).
Ini adalah buah dari ilmu
yang bermanfaat, ilmu yang dicari semata-mata karena mengharap wajah-Nya.
Seseorang yang telah berilmu tentang Allah, maka ia akan mengetahui keagungan
dan kebesaran Rabb-nya sehingga ia akan semakin takut dan tunduk kepada-Nya
serta selalu merasa diawasi oleh-Nya.
5- Membenci pujian dan ketenaran
Senang dipuji dan cinta
ketenaran adalah awal malapetaka pada diri seorang penuntut ilmu. Tidakkah kita
ingat kisah tiga orang yang pertama kali diseret ke dalam neraka? Rasulullah
menyebutkan salah satu diantara mereka,
وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ
الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ
فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ،
وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ
تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ
قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى
أُلْقِيَ فِي النَّارِ
“Seseorang yang menuntut
ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al Qur’an. Lalu ia didatangkan dan dipaparkan
kepadanya segala nikmat yang telah ia raih, lantas ia mengakuinya. Lalu ia
ditanya, “Apa yang sudah kamu lakukan terhadap nikmat tersebut?”. Ia menjawab,
“Aku menuntut ilmu juga mengajarkannya, aku juga membaca Al Qur’an karena-Mu”.
Lalu dikatakan padanya, “Kamu dusta! Kamu itu menuntut ilmu supaya dijuluki
sebagai orang yang berilmu! Kamu juga membaca Al Qur’an karena ingin dikenal
sebagai qari! Dan kamu pun telah mendapatkannya!”. Lalu orang tadi diseret di
atas wajahnya lalu dilempar ke neraka” (HR. Muslim)
6- Semakin tawadhu’ di hadapan manusia
Bagai ilmu padi, ilmu yang
bermanfaat yang dicari semata-mata mengharap wajah Allah Ta’ala akan
membuat pemiliknya semakin tawadhu’ di hadapan orang lain, tidak merasa
lebih hebat dibandingkan orang lain. Ibnu Rajab mengatakan, “Di antara tanda
orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat adalah ia tidak memandang dirinya
memiliki status atau kedudukan khusus. Hatinya membenci rekomendasi dan sanjungan
orang. Ia juga tidak takabbur di hadapan orang lain” (Fadhlu ‘Ilmis
Salaf ‘alal Khalaf, hal. 31)
Nasihat Penutup
Itulah di antara sedikit
tanda-tanda lurusnya niat seseorang dalam menuntut ilmu. Sebagai penutup, kami
bawakan sebuah nasihat indah dari Imam Al Ghazali rahimahullah teruntuk
kita semua. Beliau mengatakan, “Betapa banyak malam yang telah kau
hidupkan dengan mengulang-ngulang ilmu dan membaca berbagai macam buku, dan kau
halangi dirimu dari tidur? Aku tidak tahu apa yang memotivasimu untuk berbuat
demikian. Jika niatmu adalah karena dunia, karena mencari harta dan
mengumpulkan bagian-bagian dunia, atau berbangga-bangga dengan teman
sepantaranmu, maka celakalah dan celakalah dirimu! Tapi jika niatmu adalah
menghidupkan syari’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, membina akhlakmu, dan
mematahkan jiwa yang suka mengajak kepada keburukan, maka beruntunglah dan
beruntunglah engkau!” (Ihya ‘Ulumuddin, hal. 105-106, dinukil dari Adabu
Thalibil ‘Ilmi, hal. 35)
Semoga yang sedikit ini dapat
bermanfaat kepada penulis khususnya dan kepada kaum muslimin umumnya. Hanya
kepada Allah-lah kita semua memohon keikhlasan dalam setiap ucapan dan amalan.
Ya Allah, jadikanlah seluruh
amalan kami sebagai amalan yang shalih, dan jadikanlah amalan kami tersebut
ikhlas mengharap wajah-Mu semata, dan janganlah Engkau jadikan sedikitpun
bagian untuk selain diri-Mu dalam amalan kami tersebut. Sesungguhnya Engkau
Maha mendengar seruan hamba-Mu.
Referensi :
Hilyah Thalibil ‘Ilmi, Syaikh
Bakr Abu Zaid
Bayaanu Fadhli ‘Ilmis Salaf
‘ala ‘Ilmil Khalaf, Ibnu Rajab Al Hanbali
Ma’alim fii Thariqi Thalabil
‘Ilmi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As Sadhan
Yogyakarta, 24 Dzulhijjah
1434
Penulis: Yananto Sulaimansyah
Artikel Majalah Muslim.Or.Id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar